INI DIA! SENTRA PRODUKSI DAN EDUKASI PERTANIAN ORGANIK DI INDONESIA
Ingin belajar seluk beluk budidaya pertanian organik, tapi bingung belum ada pandangan. Dipikir-pikir lagi, kalau hanya budidaya rasanya kurang lengkap kalau belum mempelajari aspek lainnya seperti pemasaran, pemberdayaan, dan sosial ekonomi.
Tenang Sobat Cerdas, semua kebingungan di atas akan dibahas lebih lanjut melalui wadah/oragnisasi/komunitas yang menampung aspek pembelajaran pertanian organik. Tentunya akan menjadi penyemangat petani millennials seperti sekarang untuk belajar dan bertani secara alami dengan sistem pertanian organik.
Dimana saja lokasinya?
Okey Sobat Cerdas langsung saja…Ini dia sentra produksi organik yang ada di Indonesia.
- Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Simpatik Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat
Gapoktan ini memiliki 28 kelompok tani dengan jumlah anggota kurang lebih 2.333 orang anggota, yang tujuan utamanya untuk menaikan posisi tawar petani dalam menghadapi lembaga tataniaga lainya. Tingkat penerapan sistem pertanian organik di Tasikmalaya pada tahun 2012 sebesar 21% dari total luas lahan sawah yang tersedia yaitu 49.500 hektar.

Gapoktan ini berperan mengkoordinir produksi dan pemasaran beras organik petani di Kabupaten Tasikmalaya. Pada tahun 2008 Gapoktan Simpatik bekerjasama dengan PT Bloom Agro di Jakarta untuk memperoleh Sertifikat padi organik dari IMO (Institute For Marketecology Organik) yang berbasis di Swiss dan sertifikat dari sucofindo untuk standar sertifikasi organik Indonesia. Setelah adanya sertifikat tersebut Gapoktan Simpatik melalui PT Bloom Agro pada bulan Agustus 2009 melakukan ekspor perdana beras organik ke pasar Amerika Serikat sebesar 18 ton.
Adopsi budidaya padi organik semakin luas di Gapoktan Simpatik. Hal ini karena petani merasakan manfaat berupa peningkatan pendapatan. Peningkatan pendapatan tersebut dialami petani karena memperoleh peningkatan produksi maupun harga akibat peningkatan volume ekspor beras organik yang berasal dari Tasikmalaya sejak tahun 2009.
Produksi dan keuntungan petani Tasikmalaya meningkat dengan penerapan sistem pertanian organik. Satu hektar sawah organik menghasilkan 8 ton, dengan biaya usahatani sekitar 2 juta rupiah per hektar maka diperoleh keuntungan 4–6 juta rupiah per musim tanam. Pada kasus di Tasikmalaya, penerapan sistem pertanian organik juga meningkatkan lapangan pekerjaan mulai dari petani, pembuat kompos, penyortir, pengemas dan pekerjaan di penggilingan padi.
Dari sisi ilmu ekonomi sumberdaya lahan, keberhasilan sistem pertanian organik merupakan jawaban terhadap masalah gencarnya konversi lahan sawah menjadi kegunaan lain, serta masalah kerusakan lahan akibat praktek pertanian yang tidak berkelanjutan.
2. Kelompok Tani Al Barokah Kecamatan Susukan, Semarang, Jawa Tengah
Kelompok Tani Al-Barokah merupakan revolusi besar dari berbagai bidang. Pertama, pertanian mereka terjaga karena organik dan tidak tergantung pada pupuk kimia dan kualitas beras yang dihasilkan juga bagus dan bernilai tinggi. Kelompok Tani ini sejak tahun 1999 telah konsisten melaksanakan perlakuan organik, menjadikan dirinya sebagai Model Petani yang sukses di Desa Ketapang. Paguyuban ini diberi nama Al-Barokah karena para kelompok tani setiap kali berkumpul bertempat di Mushola Al-Barokah. Jenis padi yang ditanam di Paguyuban Al-Barokah terdapat bermacammacam jenisnya, misalnya Menthik Susu, Pandan Wangi, Merah Anoman, Hitam Arang dan Cisokan.

Awalnya membangun pertanian organik tidaklah mudah, para pengurus organisasi harus meyakinkan petani di Desa Ketapang dan menjelaskan betapa banyak manfaat yang diperoleh ketika kita menerapkan sistem pertanian organik. Setelah berjalannya waktu, akhirnya Paguyuban Al-Barokah memiliki pasar sendiri. Petani dapat menjualkan berasnya ke Paguyuban, hal ini bertujuan untuk memudahkan para petani sehingga mereka tidak perlu bingung untuk menjualkan berasnya.
Petani kecil di Desa Ketapang telah merasakan manfaat sistem pertanian organik seperti: (a) tanah sawah menjadi subur, (b) tanah menjadi gembur, © kondisi tanamannya tetap segar, (d) hasilnya selalu meningkat yang akhirya dapat melebihi padi konvensional, (e) pengolahan tanahnya semakin ringan, (f) badan menjadi sehat, (g) pendapatan petani meningkat, (h) petani dapat merdeka menentukan harga produk padi organik sendiri, (i) sistem pertanian organik menjadikan beberapa warga Desa Ketapang dapat naik haji.
3. Sekolah Tani Muda
Sekolah Tani Muda atau yang sering disingkat “SEKTIMUDA”, berdiri sekitar awal tahun 2014 dan sampai sekarang (2018) sudah 8 (delapan) angkatan. Sektimuda memfalisitasi program pendidikan untuk para pemuda yang berkeinginan kuat mempelajari dan mendalami pertanian.
Sekolah Tani Muda adalah sebuah organisasi yang ditujukan untuk menjadi sebuah wadah bagi para pemuda/i dengan berbagai latar belakang, untuk belajar bersama tentang dunia pertanian.

Sektimuda adalah program pendidikan yang memiliki tujuan untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas anak muda untuk bekerja di bidang pertanian. Juga memfasilitasi petani dalam mengembangkan pertaniannya. Poin penting dalam mengembangkan masyarakat pertanian adalah peningkatan dan penguatan modal intelektual, modal institusional dan modal material petani muda.
Sektimuda tidak hanya menjadi wadah belajar materi pertanian, tapi juga praktek langsung di lapangan. Berinteraksi dengan petani dan membangun jaringan dengan para pelaku di bidang pertanian. Melalui model partisipatif edukatif yang dijalankan Sekolah Tani Muda, program-program pemberdayaan dapat lebih melebur bersama masayarakat dan semua anggota. Model ini menempatkan masyarakat sebagai subjek, sehingga kebijakan pemberdayaannya pun akan mampu memfasilitasi masyarakat dalam mengembangkan kapasitasnya.
Konsep pertanian yang diusung Sektimuda adalah Natural Farming. Natural farming adalah sistem bertani yang tidak hanya menggunakan bahan-bahan organik, tapi juga membuat sendiri pupuk serta pestisida menggunakan bahan alami di daerah masing-masing. Natural Farming sebenarnya konsep pertanian yang bertumpu pada alam dan ada tambahan dari luar (baik dalam bentuk pupuk maupun pestisida). Natural Farming adalah penghayatan sekaligus perlakuan manusia terhadap alam secara arif dan cerdas.
Sektimuda mengkampanyekan dan mempraktekan sistem natural farming. Tidak hanya mengadakan kelas tapi juga pendampingan kepada petani di wilayah Jogja. Harapan kedepan, Sektimuda mampu melakukan pendampingan kepada petani di seluruh Indonesia.
4. Desa Ngeblak, Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah

Berbagai jenis tanaman sayuran yang tersebar di berbagai daerah, salah satunya yang tengah dikembangkan di Desa Nglebak, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Daerah ini menjadi sentra tanaman sayuran organik dengan berbagai jenis tanaman pakcoy, seledri, kacang capri, cabai, wortel, bawang daun dan lainnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Karanganyar, Supramnaryo menuturkan kawasan pertanian di Tawangmangu ini tidak hanya menjadi sentra budidaya sayur-sayuran. Seperti sayuran organik pockcay capri, seledri dan berbagai jenis sayuran lainnya, tetapi juga sentra tanaman hias seperti krisan, anggrek, antorium, bonsai dan 130 jenis tanaman hias lainnya yang melibatkan 850 pedagang memasok ke seluruh Indonesia.
Itu dia penjabaran beberapa sentra ataupun organisasi yang sudah menerapkan pertanian secara organik. Bagaimana Sobat Cerdas apa sudah termotivasi untuk belajar dan mempraktekkan pertanian secara organik?
Untuk informasi lainnya, selalu ikuti perkembangan dari kami yaa.
“DELIGHTING ORGANIC BUFFS”
Sumber:
· Direktorat Jenderal Pangan Kementerian Pertanian. 2016. Pengembangan Desa Pertanian Organik Padi Tahun 2016.
· https://agribisnis.baranewsaceh.co/2019/10/26/grand-design-hortikultura-dan-pertanian-organik/
· https://www.pertanian.go.id/home/?show=news&act=view&id=3924
· https://www.sektimuda.or.id/
Istiqomah, Asti., Nindyantoro, dan Novindra. 2019. Analisis Land Rent dan Daya Saing Pertanian Padi Organik Di Kabupaten Tasikmalaya. Jurnal Ekonomi Pertanian, Sumberdaya dan Lingkungan. (2): 13–25.
Wahh informatif banget kak
ReplyDelete